Powered By Blogger

Senin, 01 Oktober 2012

ASAL MULA TRADISI MIDANG DI KAYUAGUNG

Zaman dahulu, ada suatu bagian dari adat perkawinan Kayuagung, dimana para peserta adat adalah para bujang dan gadis Kayuagung. jika ada seorang bujang luar menyukai gadis Kayuagung dan terpikat ingin meminangnya, bujang itu dapat melamarnya dengan mengikuti semua adat istiadat perkawinan Kayuagung, seperti melaksanakan "KARNAVAL SEMBILAN MARGA".

Karnaval sembilan marga merupakan suatu rangkaian adat perkawinan Mabang Handak (Burung Putih) yang merupakan adat perkawinan tertinggi di kalangan masyarakat Kayuagung yang tergolong dalam keluarga pesirah atau keluarga keraton.

Pada zaman kolonial Belanda, para peserta karnaval ini harus melewati pendopooan sebagai bentuk tanda pengontrolan para petinggi kolonial Belanda. Pengantin inti lelaki maupun pengantin pengiring mengenakan handuk sebagai selendang yang merupakan pertanda bahwa seusai arak-arakan mereka akan mandi di sungai Komering.

Lama-kelamaan, "Karnaval Sembilan Marga" sering di kenal sebagai "Midang Morge Siwe" (Midang artinya karnaval, dan morge siwe artinya sembilan marga). Tradisi yang awalnya digunakan sebagai ajang untuk mencari jodoh, kini dilaksanakan sebagai tradisi tahunan yang dilaksanakan satu tahun sekali, yaitu seusai lebaran Idul Fitri. Midang saat ini juga harus melintas di depan pendopo'an, dihadapan para pejabat dan tetua serta tokoh masyarakat, seperti halnya zaman kolonial Belanda.

Senin, 17 September 2012

PAKAIAN ADAT PERNIKAHAN DI KAYUAGUNG


Pernikahan adat di Kayuagung memiliki ciri khas atau yang membedakan dari daerah lain. Salah satunya pakaian. Pakaian yang digunakan pada saat pernikahan sudah menjadi adat dan harus ada pada saat pernikahan. Pakaian yang digunakan saat pernikahan antara lain sebagai berikut:
1.      Pakaian Pengantin Inti

Pakaian inti adalah pakaian yang paling utama dan paling pokok dalam adat Kayuagung. Pakaian inti perempuan dibuat sangat meriah dan mewah dilihat dari penampilan, aksesoris yang berkilauan, dan make up yang digunakan pun harus berbeda dengan tamu bahkan pendampingnya (pukal). Sedangkan,yang membedakan pakaian inti laki-laki adalah kepudang (hiasan penutup kepala).

 
2.      Pakaian Mulah

Mulah artinya berganti pakaian. Dalam adat Kayuagung , awalnya mulah dilakukan sebanyak tujuh kali. Itu berarti dalam satu hari pengantin laki-laki dan pengantin perempuan harus berganti baju sebanyak 7 kali, termasuk aksesoris kepala. Berikut macam-macam pakaian mulah:
a.       Mulah Pertama
Mulah pertama adalah pakaian yang pertama kali dipakai oleh pengantin pada saat mulah. Pakaian ini hampir sama dengan pakaian inti untuk perempuan. Namun, hiasan pada kepala sedikit dikurangai sehingga tampak lebih sederhana dibandingkan hiasan pada pakaian inti. Sedangkan untuk pengantin laki-laki masih tetap menggunakan kepudang namun tidak menggunakan dasi seperti pakaian pengantin inti laki-laki.

b.      Mulah Ke-2 sampai Ke-6
 Pada mulah ke-2 sampai ke-6 aksesoris kepala yang digunakan sama, hanya saja berganti pakaian, sarung dan kemban(selendang) untuk pengantin perempuan. Sedangkan pengantin laki-laki cukup mengganti sarung dan handuk. Karena lambatnya proses panggantian baju, biasanya pengantin hanya melakukan 5 kali berganti baju. Lagi pula pada mulah ke-2 sampai ke-6 aksesoris kepalanya sama. Maka dari itu, banyak pengantin yang tidak melaksanakan mulah ke-5 dan ke-6.

c.       Mulah ke-7

Mulah ke-7 adalah pergantian baju terakhir. Pada mulah ke-7 hiasan kepala menggunakan selendang tipis yang menutupi kepala.
3.      Pakaian Pukal

Pukal artinya pendamping pengantin laki-laki dan perempuan. Pengantin laki-laki memiliki 2 pendamping laki-laki. Sedangkan, pengantin perempuan memiliki 2 pendamping perempuan. Pakaian pendamping pengantin harus sama (kembar) dan itulah yang menjadi ciri khas dari pakian pendamping.