Powered By Blogger

Senin, 01 Oktober 2012

ASAL MULA TRADISI MIDANG DI KAYUAGUNG

Zaman dahulu, ada suatu bagian dari adat perkawinan Kayuagung, dimana para peserta adat adalah para bujang dan gadis Kayuagung. jika ada seorang bujang luar menyukai gadis Kayuagung dan terpikat ingin meminangnya, bujang itu dapat melamarnya dengan mengikuti semua adat istiadat perkawinan Kayuagung, seperti melaksanakan "KARNAVAL SEMBILAN MARGA".

Karnaval sembilan marga merupakan suatu rangkaian adat perkawinan Mabang Handak (Burung Putih) yang merupakan adat perkawinan tertinggi di kalangan masyarakat Kayuagung yang tergolong dalam keluarga pesirah atau keluarga keraton.

Pada zaman kolonial Belanda, para peserta karnaval ini harus melewati pendopooan sebagai bentuk tanda pengontrolan para petinggi kolonial Belanda. Pengantin inti lelaki maupun pengantin pengiring mengenakan handuk sebagai selendang yang merupakan pertanda bahwa seusai arak-arakan mereka akan mandi di sungai Komering.

Lama-kelamaan, "Karnaval Sembilan Marga" sering di kenal sebagai "Midang Morge Siwe" (Midang artinya karnaval, dan morge siwe artinya sembilan marga). Tradisi yang awalnya digunakan sebagai ajang untuk mencari jodoh, kini dilaksanakan sebagai tradisi tahunan yang dilaksanakan satu tahun sekali, yaitu seusai lebaran Idul Fitri. Midang saat ini juga harus melintas di depan pendopo'an, dihadapan para pejabat dan tetua serta tokoh masyarakat, seperti halnya zaman kolonial Belanda.